Sharing Makalah dan Artikel Ringan

Tradisi Dzikir Saman di Pondok Pesantren Qomaruddin

 DZIKIR SAMAN
Kebersamaan dalam gelapnya malam
oleh: +Muhammad Mufid 
Semua lampu dimatikan ketika seluruh jamaah berdiri dalam posisi statis, hening, menunggu aba-aba dan lantunan dzikir dari imam pada acara malam mini. Dzikir Saman namanya. Suatu budaya yang sudah tidak asing lagi dan sering dilakukan di Pondok Pesantren Qomaruddin dua hari menyambut Hari Raya. Biasanya, semua alumni dan seluruh jajaran sesepuh desa dating dan berkumpul bersama pada malam mini, tepatnya malam ke-28 Ramadhan.
Selama 6 tahun di Pondok Pesantren, saya hamper tidak tertarik dan merasa tidak perlu untuk mengikuti acara ini pada awalnya, karena menurutku buat apa berkumpul untuk berdzikir dalam kegelapan dan melantunkan bacaan-bacaan yang katanya asing dan terkadang aneh. Lebih baik berkumpul dengan keluarga bukan?.
ilustrasi Dzikir
Namun, pada penghujung tahun di Pondok Pesantren, saya merasa penarasan dengan acara ini. Kenapa? Karena banyak mitos yang beredar bahwa jika kita bisa khusyuk dalam mengikuti dzikir tersebut, bisa merasakan kenikmatan dan mententramkan hati. Bahkan, ada juga yang berkata jika kita bisa meresapi setiap alunan dzikir yang dilantunkan pada malam itu, maka tubuh kita bisa terasa ringan dan seolah melayang dibuatnya. Mendengar semua itu, saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti Dzikir Saman, dan berangkat ke Pondok Pesantren pada malam ke-28 bulan Ramadhan. Sesampainya disana, ternyata banyak sekali orang yang hendak mengikuti acara ini, bahkan para sesepuh dari desa-desa tetanggapun ikut hadir dan berkumpul di sebuah musholla yang bernama Langgar Agung. Saya dating pukul 8 malam waktu itu, dan karena acara dimulai pada pukul 10, saya memilih untuk berkumpul dan ngobrol ringan dengan para pengurus dan santri yang saya kenal di Pondok Pesantren. Tak terasa, ternyata semakin malam, semakin banyak tamu dan para alumni yang datang berbondong-bondong dan berkumpul di Pondok Pesantren Qomaruddin. Dan ketika waktu menunjukkan pukul 10, semua tamu yang datang mulai berkumpul dan duduk bersila di Langgar Agung.
Sebelum acara dimulai, sesepuh atau pemanggku Pondok Pesantren Qomaruddin yang bernama KH. R. Ahmad Muhammad Al-Hammad memberi sambutan dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Dzikir Saman yang akan dilakukan semua orang di Langgar Agung pada malam itu. Beliau menjelaskan bahwa Dzikir Saman yaitu suatu dzikir samawi yang selalu dilakukan oleh para malaikat setiap hari dan setiap waktu jika mereka tidak mendapat tugas dari Allah. Intinya, dzikir ini selalu dilantukan oleh para malaikat untuk memuji dan mengagungkan Allah swt., dan pada kesempatan itu juga Yai Mad (Panggilan untuk KH. R. Ahmad Muhammad Al-Hammad) memberi sebuah contoh tentang bagaimana dzikir yang dilakukan oleh para malaikat. “Jadi, para malaikat itu selalu berdzikir dan memuji kepada Allah swt., bagaimana bunyinya? Akan saya contohkan dulu, dengar baik-baik. Hu-Hu-Hu-Hu-a-Hu. Hu-a-Hu-a-Hu. Arti dari dzikir yang saya baca tersebut itu mengagungkan nama Allah, atau hakikat dari bacaan tersebut yaitu, Hu-a-Hu berarti Huwa Allahu”. Yai Mad memberi penjelasan kepada para tamu dan undangan yang hadir pad amalam itu.
Seusai memberi penjelasan tentang apa itu Dzikir Saman, acara dibuka dengan membaca tahlil yang dipimpin oleh adik Yai Mad sendiri, tidak lama tahlil dilakukan maka ada aba-aba dari pemimpin acara agar semua orang berdiri, dan ketika semua orang berdiri, “klek-klek-klek” seluruh lampu dan penerangan di Pondok Pesantren Qomaruddin dimatikan secara serentak, sehingga saya dan yang tidak bisa melihat apapun selain merasakan keheningan dalam gelapnya malam. Tiba-tiba terdengan lantunan sholawat nabi yang dibaca oleh pemimpin acara dengan rytmhe yang sangat cepat, dan dibarengi dengan bacaan dzikir yang dipimpin langsung oleh Yai Mad, dan para jamaah yang mengikuti acara tersebut mengikuti apa saja yang diucapka oleh Yai Mad. Saya yang baru pertama kali mengikuti acara tersebut secara tiba-tiba seperti merasakan getaran dan ketakutan yang luar biasa ketika mendengar dzikir-dzikir yang dibacakan oleh beliau dan diikuti oleh para jamaah lainnya. Ketika mulai terbiasa dengan bacaan-bacaan yang sangat asing tersebut, ada perasaan lain yang membuat tubuh serasa ringan dan tenang, seolah membersihkan kotoran yang ada pada tubuh.
Cukup lama alunan dzikir dan lantunan sholawat yang dibacakan pada malam itu, hampir satu jam dan dalam posisi berdiri berdempetan dengan seluruh jamaah. Setelah semua dzikir yang telah dibacakan berhenti dan semua jamaah telah kembali pada posisi duduk, ‘klek-klek-klek’ semua lampu kembali dinyalakan. Sayapun sedikit kaget dengan lampu yang tiba-tiba dinyalakan, karena selama proses dzikir itu dilakukan, saya memejamkan mata dan mengikuti alunan sholawat dan dzikir yang dibacakan. Ketika membuka mata dan beradaptasi dengan cahaya lampu, saya melihat sekitar dan melihat wajah-wajah tenang jamaah yang telah mengikuti dzikir saman ini, seolah menemukan ketenangan atau apalah itu namanya. Selanjutnya acara ditutup dengan doa oleh KH. R. Ahmad Muhammad Al-Hammad.
Setelah doa selesai dibacakan, saya sendiri merasakan sesuatu yang berbeda, seperti ada aura ketenangan yang menyejukkan waktu itu. Ketika lama terdiam, saya kembali dikagetkan dengan banyaknya makanan yang disuguhkan kepada para jamaah berupa Nasi dan Ayam yang ditaruh pada satu lengser besar yang tiap lengser bisa dimakan oleh 6-7 orang, dan disini semua jamaahpun langsung memakan setiap suguhan. Yang menarik pada makan ini yaitu, semua jamaah berkumpul dan makan dengan siapa saja, tanpa melihat status social dan jabatan., Bahkan, Yai Mad pun ikut makan dalam salah satu lengser tersebut. Membuat suasana semakin akrab.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Tradisi Dzikir Saman di Pondok Pesantren Qomaruddin

2 komentar:

  1. Replies
    1. ini di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik mas

      Delete